Kado Akhir Pemerintahan Obama
Konflik Israel-Palestina telah berlangsung lama dan
belum ada solusi nyata untuk menghentikan konflik tersebut. Berbagai upaya
telah dilakukan baik oleh organisasi-organisasi internasional —termasuk PBB—maupun oleh negara-negara
besar melalui sejumlah negosiasi bilateral. Tetapi upaya tersebut belum
membuahkan hasil nyata, dan agresi Israel terhadap Palestina semakin
membabi-buta. Perluasan permukiman Israel di Tepi Barat yang dekat dengan
Yerusalem semakin membuktikan negara zionis tersebut ingin menguasai tanah
Palestina seutuhnya, termasuk kota suci Yerusalem. Meskipun upaya perluasan
permukiman Israel di Tepi Barat mendapat kecaman dari sejumlah negara termasuk
PBB, Israel tetap melanjutkan pembangunan permukiman Yahudi tanpa mengindahkan
kecaman tersebut.
Kebijakan perluasan permukiman Israel di tanah Palestina
semakin menjauhkan solusi perdamaian —Israel-Palestina—yang dibangun oleh negara-negara Eropa termasuk AS. Di
bawah pemerintahan Obama, AS selalu mengedepankan cara-cara diplomatis untuk
meredam konflik kedua negara. Obama menginginkan Israel sebagai negara
demokrasi bisa damai dan hidup berdampingan dengan tetangganya, Palestina. Sikap
AS tersebut ditunjukkan dengan diloloskannya Resolusi Dewan Keamanan PBB
mengenai permukiman Israel di Palestina. AS menolak untuk menggunakan hak
vetonya dan meloloskan Resolusi tersebut.
Sikap AS di atas setidaknya mencerminkan konsistensinya
terkait permasalahan Israel -Palestina yang harus diselesaikan secara adil. Tetapi
disisi lain, sikap AS tersebut sebagai upaya membendung kebijakan AS ke depan
di bawah Pemerintahan Trump yang pro terhadap kebijakan permukiman Israel di
Palestina. Obama pesimis di bawah Trump perdamaian Israel-Palestina akan
terwujud. Mungkin inilah usaha terakhir yang dilakukan Pemerintahan Obama untuk
perdamaian Israel-Palestina. Sebab dengan diloloskannya resolusi tersebut,
upaya perdamaian kedua negara akan terbuka lebar.
Tantangan
Ke Depan
Keputusan Dewan Keamanan PBB yang melarang perluasan
permukiman Israel di tanah Palestina mendapat respons yang baik dari dunia internasional,
terutama dari negara- negara pengusul seperti Venezuela, Senegal, Malaysia dan
Selandia Baru. Dunia internasional semakin optimis dengan Resolusi Dewan Keamanan
PBB ini yang akan mengakhiri konflik berkepanjangan antara Israel dan
Palestina. Tetapi rasa optimis tersebut mulai berubah menjadi pertanyaan besar,
apakah di bawah Trump resolusi ini akan berjalan dengan baik, dan Israel akan
mematuhinya? Atau justru Israel akan mengabaikan resolusi tersebut dan
berlindung di bawah kebijakan Trump?
Kita tahu bahwa AS ke depan akan dipimpin
oleh Trump, dan berbagai sumber menyebutkan Israel di bawah pemerintahan Trump
akan lebih diuntungkan dalam setiap kebijakannya. Jika hal ini kemudian benar
terjadi, maka usaha untuk mendamaikan Israel dan Palestina akan semakin
panjang. Kuatnya pengaruh AS di PBB akan mempengaruhi setiap kebijakan atau
keputusan yang dikeluarkan oleh institusi tersebut, termasuk masalah-masalah
yang terkait dengan Israel. Tentunya itu menjadi PR bersama negara-negara yang
menjunjung tinggi perdamaian dan anti-imperialisme.
Komentar
Posting Komentar